Kalau dengar suara ākresk⦠kresssā di malam hari, banyak orang langsung merinding. Apalagi kalau suaranya datang dari sawah atau bangunan tua. Padahal, kemungkinan besar itu bukan pertanda mistis, tapi suara burung hantu serak jawa yang lagi menjalankan tugas alaminya. Burung ini sering di salahpahami, padahal perannya di alam justru sangat penting.
Burung ini bukan makhluk angker, melainkan predator alami yang bekerja diam-diam menjaga keseimbangan lingkungan.
Mengenal Burung Hantu Serak Jawa
Burung hantu serak jawa di kenal dengan nama ilmiah Tyto alba javanica. Ia termasuk keluarga burung hantu serak yang tersebar luas di Asia Tenggara. Ciri paling khasnya adalah wajah berbentuk hati dengan warna pucat keputihan, mata hitam besar, dan tubuh ramping.
Ukuran tubuhnya sedang, tidak sebesar burung hantu bubo, tapi cukup tangguh untuk memangsa hewan pengerat. Warna bulunya cenderung terang dengan kombinasi putih, krem, dan cokelat muda, membuatnya mudah di kenali saat terlihat sekilas di malam hari.
Habitat dan Persebaran

Burungini biasanya ditemukan di Pulau Jawa dan sekitarnya. Habitat favoritnya adalah area terbuka seperti persawahan, ladang, kebun, serta lingkungan dekat pemukiman manusia. Mereka juga sering bersarang di bangunan kosong, lumbung padi, atau pohon besar.
Keberadaan manusia justru menguntungkan burung ini, karena area pertanian biasanya kaya akan tikus. Selama masih ada tempat bertengger dan sumber makanan, burung hantu serak jawa bisa beradaptasi dengan baik.
Pola Hidup dan Cara Berburu
Sebagai burung nokturnal, burung hantu serak jawa aktif berburu saat malam. Pendengarannya sangat tajam, bahkan mampu mendeteksi gerakan tikus di balik rerumputan gelap. Sayapnya di rancang khusus agar bisa terbang nyaris tanpa suara, membuat mangsanya sulit menyadari kehadirannya.
Menu utamanya adalah tikus, tetapi ia juga memangsa hewan kecil lain seperti kadal dan serangga besar. Dalam satu malam, satu ekor burung ini bisa memangsa beberapa tikus sekaligus.
Peran Penting dalam Pertanian
Di sinilah burung hantu serak jawa jadi āpahlawan tanpa tanda jasaā. Tikus merupakan hama utama di sawah, dan penggunaan racun tikus sering menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Burung hantu hadir sebagai solusi alami.
Banyak daerah di Indonesia mulai memanfaatkan burung hantu serak jawa dengan memasang rumah burung hantu di area pertanian. Hasilnya, populasi tikus menurun drastis tanpa perlu bahan kimia. Ini membuktikan bahwa burung hantu bukan pembawa sial, melainkan penjaga keseimbangan alam.
Kenapa Burung Ini Sering Dianggap Mistis?

Stigma mistis muncul karena burung hantu serak jawa aktif di malam hari dan memiliki suara yang tidak biasa. Di beberapa budaya, suara ini dikaitkan dengan hal-hal gaib. Padahal, itu hanyalah cara burung hantu berkomunikasi dan menandai wilayah.
Sayangnya, anggapan ini membuat burung hantu sering di usir atau bahkan di bunuh. Padahal, menghilangkan predator alami justru bisa memperparah masalah hama.
Ancaman dan Perlindungan
Meski cukup adaptif, burung ini tetap menghadapi ancaman. Perusakan habitat, perburuan, dan perdagangan ilegal menjadi risiko nyata. Selain itu, penggunaan racun tikus berlebihan juga bisa meracuni burung hantu secara tidak langsung.
Edukasi masyarakat menjadi kunci utama. Semakin banyak orang memahami peran burung hantu serak jawa, semakin besar peluang burung ini dilindungi dan dimanfaatkan secara bijak.
Kesimpulan
Burung hantu serak jawa bukanlah simbol kesialan seperti yang sering dipercaya sebagian masyarakat. Justru sebaliknya, burung ini adalah penjaga malam yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan alam. Dengan pendengaran tajam dan kemampuan terbang senyap, burung hantu serak jawa menjadi predator alami yang sangat efektif dalam mengendalikan populasi tikus di area pertanian. Keberadaannya membantu petani mengurangi hama tanpa harus bergantung pada racun kimia yang berbahaya bagi lingkungan.
Daripada merasa takut atau mengusirnya, sudah saatnya kita memandang burung hantu serak jawa sebagai sekutu alam yang bekerja diam-diam. Di balik gelapnya malam, burung ini menjalankan tugas penting yang dampaknya nyata bagi manusia dan ekosistem. Dengan memahami perannya, kita bisa belajar hidup lebih selaras dengan alam dan menghargai setiap makhluk yang punya fungsi, meski sering luput dari perhatian.
