Kalau biasanya orang kenal ikan tuna dari daging filletnya yang mahal dan sering masuk menu sushi, lain cerita kalau kamu main ke daerah pesisir. Di sana, ada satu bagian tuna yang justru di anggap harta karun kuliner, yaitu rahang tuna. Bentuknya besar, berotot, dan tampilannya mungkin terlihat sangar. Tapi soal rasa? Jangan diremehkan.
Rahang tuna adalah bukti nyata bahwa bagian ikan yang jarang di lirik justru bisa jadi hidangan paling berkarakter, paling ājujurā, dan paling memuaskan buat lidah.
Apa Itu Rahang Tuna?
Rahang tuna adalah bagian kepala ikan tuna yang berisi otot pipi dan rahang bawah. Otot ini terbentuk dari aktivitas tuna yang terus berenang cepat dan membuka mulut saat berburu mangsa. Karena terus bekerja, otot di bagian rahang berkembang sangat kuat.
Hasilnya, daging ikan ini tebal, padat, dan berserat. Karakter ini membuatnya cocok dimasak dengan teknik panas tinggi seperti dibakar, dipanggang, atau dimasak lama dalam kuah. Saat matang sempurna, dagingnya empuk, juicy, dan punya rasa ikan yang lebih āberisiā dibanding fillet biasa.
Kenapa Rahang Tuna Disukai Pecinta Kuliner?

Ada beberapa alasan kenapa masakan ini punya penggemar fanatik, terutama di daerah pesisir. Pertama, teksturnya unik. Tidak selembut fillet, tapi juga tidak keras. Ada kombinasi kenyal dan empuk yang bikin tiap gigitan terasa āhidupā.
Kedua, rasanya lebih gurih alami. Karena ototnya aktif, lemak alami di rahang tuna tersebar merata. Inilah yang membuat rasanya kuat tanpa perlu bumbu ribet. Bahkan hanya dengan garam dan api, rasanya sudah keluar.
Ketiga, pengalaman makannya beda. Makan rahang tuna bukan cuma soal rasa, tapi sensasi. Potongannya besar, makannya pelan, dan ada kepuasan tersendiri saat daging lepas dari tulang.
Rahang Tuna Bakar Menu Paling Ikonik
Kalau ngomongin masakan rahang tuna, versi bakar hampir selalu jadi juaranya. Biasanya makanan ini di bumbui sederhana bawang putih, ketumbar, garam, dan sedikit perasan jeruk atau asam. Setelah itu di bakar di atas arang sampai permukaannya agak gosong.
Bagian luar jadi smoky dan kering, sementara bagian dalam tetap juicy. Di sajikan dengan sambal dabu-dabu, sambal rica, atau sambal kecap, rasanya langsung naik kelas. Di Maluku, Sulawesi, dan Papua, rahang tuna bakar sering jadi menu wajib saat acara kumpul keluarga atau pesta laut.
Rahang Tuna Kuah Lembut dan Menghangatkan
Selain di bakar, ikan juga sering di masak berkuah. Teknik ini cocok untuk kamu yang suka tekstur lebih lembut dan rasa yang menyatu. Biasanya di masak dengan bumbu kuning, kuah asam pedas, atau rempah khas daerah.
Di masak perlahan, rahang tuna akan melepas kaldu alami yang bikin kuahnya gurih tanpa perlu banyak penyedap. Dagingnya mudah lepas dari tulang dan paling pas di santap dengan nasi hangat. Nggak heran kalau masakan ini sering di anggap comfort food oleh masyarakat pesisir.
Rahang Tuna dan Budaya Pesisir
Popularitas rahang tuna juga nggak lepas dari budaya masyarakat pesisir yang menghargai hasil laut sepenuhnya. Bagi nelayan, setiap bagian ikan punya nilai. Tidak ada istilah āsisaā.
Rahang tuna yang di kota mungkin dianggap bagian kurang menarik, justru diolah jadi hidangan istimewa. Ini bukan cuma soal rasa, tapi filosofi hidup mengambil secukupnya dari laut dan memanfaatkannya dengan bijak.
Tips Menikmati Rahang Tuna

Kalau baru pertama kali coba, jangan kaget dengan ukurannya. Rahang tuna memang besar dan makan paling enak kalau di nikmati pelan-pelan. Jangan buru-buru, nikmati teksturnya.
Gunakan sambal segar atau perasan jeruk untuk menyeimbangkan rasa gurihnya. Dan yang paling penting, makan selagi hangat. Rahang tuna paling nikmat saat baru turun dari panggangan atau panci.
Kesimpulan
Masakan ini membuktikan bahwa kuliner tidak selalu soal bagian mahal atau populer. Justru dari bagian yang jarang dilirik, kita bisa menemukan rasa paling jujur dan berkarakter.
Dengan tekstur khas, rasa gurih alami, dan cara masak yang sederhana, rahang tuna layak disebut ikon kuliner laut Nusantara. Sekali coba, bukan cuma kenyang, tapi juga paham kenapa hidangan ini begitu dicintai.
