Siapa di sini yang pernah lihat Tupai terbang secara langsung? Kalau belum, tenang, kamu nggak sendirian. Hewan satu ini memang jarang muncul di hadapan manusia, tapi keberadaannya nyata dan menarik banget buat di bahas. Dari namanya saja sudah bikin penasaran, kan? Emangnya bisa terbang beneran?
Nah, sebelum keburu salah paham, kita lurusin dulu. Tupai terbang sebenarnya bukan terbang seperti burung atau kelelawar, Ia lebih tepat di sebut melayang. Tapi justru di situlah keunikannya dimulai.
Apa Itu Tupai Terbang?

Tupai terbang adalah sebutan populer untuk hewan mamalia kecil yang punya kemampuan meluncur dari satu pohon ke pohon lain. Dalam dunia biologi, hewan ini di kenal sebagai flying squirrel atau bajing terbang. Di Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatra, hewan ini hidup di hutan, perkebunan, dan daerah dengan pepohonan tinggi.
Ciri paling khas dari Tupa terbang adalah adanya selaput kulit tipis yang membentang dari kaki depan ke kaki belakang. Selaput inilah yang berfungsi seperti āparasut alamiā saat ia melompat dari ketinggian. Jadi, bukan mengepakkan sayap, tapi mengatur arah luncuran.
Cara āTerbangā yang Bikin Kagum
Saat Tupa terbang meloncat dari pohon, tubuhnya akan terbentang lebar. Selaput kulitnya terbuka, ekornya berfungsi sebagai kemudi, dan ia bisa mengontrol arah serta jarak luncuran. Dalam sekali luncur, beberapa spesies bahkan bisa menempuh jarak puluhan meter.
Menariknya lagi, kemampuan ini bukan cuma buat gaya-gayaan. Melayang membantu Tupa terbang menghemat energi, menghindari predator di tanah, dan berpindah tempat tanpa harus turun ke bawah. Praktis dan efisien.
Aktif di Malam Hari

Kalau kamu siang-siang nyari Tupai terbang, kemungkinan besar nggak bakal ketemu. Hewan ini termasuk nokturnal, alias aktif di malam hari. Saat matahari terbenam, barulah mereka keluar untuk mencari makan.
Penglihatannya sudah beradaptasi dengan kondisi minim cahaya. Di tambah pendengaran yang tajam, Tupai terbang bisa bergerak lincah di antara pepohonan saat malam sunyi.
Makan Apa Sih?
Soal makanan, Tupai terbang tergolong omnivora ringan. Menu favoritnya antara lain buah-buahan, biji-bijian, daun muda, serangga, hingga nektar bunga. Dengan pola makan seperti ini, mereka berperan penting dalam penyebaran biji tanaman di hutan.
Tanpa di sadari, setiap kali Tupa terbang makan dan berpindah tempat, mereka ikut membantu regenerasi hutan. Jadi, perannya bukan cuma lucu dan unik, tapi juga ekologis.
Habitat dan Persebaran
Di Indonesia, Tupa terbang bisa di temukan di berbagai wilayah berhutan, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Jawa. Namun, populasinya makin jarang terlihat, terutama di daerah yang hutannya mulai berkurang.
Mereka membutuhkan pohon tinggi untuk bersarang dan meluncur. Kalau pepohonan ditebang dan diganti bangunan, otomatis ruang hidup Tupa terbang ikut menghilang.
Ancaman yang Mengintai
Walau bukan hewan buas atau berbahaya, Tupai terbang tetap menghadapi banyak ancaman. Perusakan habitat jadi masalah utama. Selain itu, ada juga yang menangkapnya untuk dipelihara, padahal hewan ini tidak cocok hidup di kandang sempit.
Di alam liar, Tupai terbang sudah punya ritme hidup sendiri. Kalau dipaksa hidup di lingkungan buatan, stres dan risiko kematian justru lebih tinggi.
Kenapa Tupai Terbang Perlu Dijaga?
Karena mereka bagian dari keseimbangan alam. Kehilangan satu spesies bisa berdampak ke rantai ekosistem yang lebih besar. Selain itu, Tupai terbang juga punya nilai edukasi tinggi. Hewan ini bisa jadi contoh nyata bahwa alam punya cara cerdas untuk bertahan hidup.
Daripada diburu atau dipelihara sembarangan, lebih baik kita jaga habitatnya. Cukup nikmati keberadaannya dari jauh, atau lewat dokumentasi alam.
Kesimpulan
Tupai terbang bukan makhluk mitos, bukan juga hewan hasil rekayasa. Ia nyata, hidup di sekitar kita, dan punya kemampuan luar biasa untuk melayang di udara tanpa sayap. Di balik tubuh kecilnya, tersimpan adaptasi alam yang cerdas dan elegan.
Jadi, kalau suatu malam kamu melihat bayangan kecil meluncur dari satu pohon ke pohon lain, jangan kaget. Bisa jadi itu Tupai terbang, si mamalia malam yang diam-diam jago āterbangā.
